<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737525197323775915</id><updated>2011-07-28T23:35:55.450-07:00</updated><title type='text'>Looking Trough His Dirty Eyeglasses</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hottakobe.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737525197323775915/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hottakobe.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hotta Kobe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02429500775440758518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2ScogJE5xeU/Sr9LfT0jbYI/AAAAAAAAAAM/r5ldSvHr-Ag/S220/hottaava3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737525197323775915.post-6208990274930718318</id><published>2009-09-27T17:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-27T17:58:17.989-07:00</updated><title type='text'>(Dipaksa) Membajak Laptop Ishizaki-san</title><content type='html'>Sore, Minna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hhh&lt;/span&gt;—ditawarkan oleh Ishizaki-san untuk memakai barang elektronik miliknya ini. Kuso! Saya mana mengerti hal macam beginian, barang ter-modern yang saya miliki paling-paling hanya pisau lipat serbaguna yang selalu saya simpan di saku celana saya. Silahkan katakan saya ketinggalan zaman—dan kenyataannya memang seperti itu. Ini saja masih termasuk untung karena saya tidak merusak laptop milik Ishizaki-san. Padahal saya sudah bersikeras memberitahunya bahwa saya tidak mau menanggung akibat kalau laptop anak lelaki satu itu rusak karena tertimpa kesialan saya. Hmph! Tapi katanya dia tidak mau temannya tidak mengerti soal elektronik dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blah-blah-blah&lt;/span&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(melirik ke arah Ishizaki yang menatap layar laptop)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sigh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;Hotta: "Ishizaki, haruskah saya terus mengisi entri ini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;Ishizaki: "Ya, tentu, Hotta-kun, blog itu bagus." *grin*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;Hotta: "Tapi saya bingung mau menulis apa lagi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;Ishizaki: "Ayolah, yang perlu kau lakukan cuma menekan tombol kotak-kotak itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;Hotta: "Lagipula&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;&lt;span&gt;—"&lt;br /&gt;Ishizaki: "Lagipula ini kesempatan bagus karena kita mendapat koneksi internet."&lt;br /&gt;Hotta: "Ishi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;zaki-san—"&lt;br /&gt;Ishizaki: "Kita bebas dari Ryoraemon itu!"&lt;br /&gt;Hotta: "Kita hanya liburan beberapa minggu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, Ishizaki-san."&lt;br /&gt;Ishizaki: "Ayo cepat ketik lagi!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sigh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;(melirik sekali lagi)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Saya bingung harus menulis apa lagi. Haruskah saya memperkenalkan diri seperti permulaan blog lain? Haaah, Ishizaki-san tidak membantu! Dia malah menertawakan hasil ketikan saya. &gt;____&gt; Saya rasa saya tidak perlu memperkenalkan lebih banyak lagi tentang diri saya, seorang Hotta Kobe, anak penjual susu, selalu sial, dan mempunyai kakak banci dan ayah yang minta dihajar. Ah, durhaka. Masa bodohlah. Harus menulis apalagi saya ini?? Mendadak saya berharap yang disebelah saya ini Hinata-san bukannya Ishialhdlsarfehwr b;kwjehr l;wqhtc;w w;eh rlflskjdf;ahf;ahf;dtuhasdjklh ahslakdh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUKUP SUDAH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;(melirik garang ke arah Ishizaki yang menekan keyboard dengan iseng)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Entri ini selesai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jya, Minna. oTL&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737525197323775915-6208990274930718318?l=hottakobe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hottakobe.blogspot.com/feeds/6208990274930718318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hottakobe.blogspot.com/2009/09/membajak-laptopurmishizaki-san.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737525197323775915/posts/default/6208990274930718318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737525197323775915/posts/default/6208990274930718318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hottakobe.blogspot.com/2009/09/membajak-laptopurmishizaki-san.html' title='(Dipaksa) Membajak Laptop Ishizaki-san'/><author><name>Hotta Kobe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02429500775440758518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2ScogJE5xeU/Sr9LfT0jbYI/AAAAAAAAAAM/r5ldSvHr-Ag/S220/hottaava3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737525197323775915.post-248259929424255180</id><published>2009-09-27T04:42:00.000-07:00</published><updated>2009-09-27T04:46:08.762-07:00</updated><title type='text'>First Letter (1998)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Tak perlu dijabarkan lagi, Hotta benci ayah dan kakak lelakinya yang kewanita-wanitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[&lt;em&gt;KRINGG KRINGG&lt;/em&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki anak lelaki itu giat mengayuh pedal sepeda karatan yang roda giginya berderit nyaring—dengan suara seperti seseorang yang menggarukkan tangannya di papan tulis—tiap kali ia berhenti di depan satu rumah. Hotta biasa memeluk botolan susu segar, berjalan ke depan pintu, dan mengambil botol lain yang kosong yang ada di depan rumah tiap keluarga yang memesan susu segar dari toko yang ada di rumah anak lelaki itu. Ia mendesah pelan, memasukkan botolan susu kosong ke dalam keranjang sepeda dan kembali menggoes, menjelajah sepanjang jalan sempit di Edo, dan merapatkan sweater kumal yang membalut tubuh kerempengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi anak yang lahir di dalam keluarga yang punya usaha berupa bisnis minuman bernama susu mungkin tidak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lahir dalam keluarga yang bergelut di bisnis susu dengan ayah pilih kasih dan kakak pandai berbicara—itu baru &lt;em&gt;masalah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu hal—entah kenapa ia selalu bawa &lt;strong&gt;&lt;u&gt;&lt;em&gt;sial.&lt;/em&gt;&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang salahnya karena waktu ia berkunjung ke Kuil beberapa tahun silam, ia menendang patung Buddha tanpa ragu dan menyebabkan tempurung kepala patung batu itu pecah karena terjatuh—setelah saat itu, entah kenapa kesialan selalu menimpanya. Si ayah yang lebih pantas disebut buntalan lemak itu juga menyebutnya anak sial—sama saja dengan kakak lelakinya yang berniat menjadi aktor itu. Mencari muka di hadapan ayah mereka dengan mengatainya anak sial, lalu memuji-muji ayah mereka agar bisa mendapatkan kepingan yen tambahan. Dasar penjilat. Sudah lama Hotta ingin menyumpal mulut manis itu dengan sushi basi yang dilumuri wasabi super pedas. Biar saja Koga bolak-balik kamar mandi karena saluran buang airnya mengalami masalah akibat efek dari wasabi. Siapa suruh jadi kakak seperti banci dan penjilat sejati seperti itu? Rasanya di mata Hotta, wajah Koga hampir tidak ada bedanya dengan labu dengan mata melengkung yang picik. Mirip luwak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Luwak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang apa seekor luwak di rumah keluarga Ootani dan berbicara dalam bahasa manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin mata Hotta sudah buyar atau khayalannya memang sedang aktif saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu mengusap-ngusap matanya dan kembali mengayuh si sepada butut, mencuri pandang ke arah luwak yang berbicara dengan bahasa manusia tersebut. Ayo, Hotta. Ingat hal itu hanyalah khayalan—bukankah tidak mungkin seekor luwak berbi—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[BRAKK!]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, ke&lt;em&gt;sial&lt;/em&gt;an pertama untuk hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[KLONTANG]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[&lt;em&gt;TRRRRR&lt;/em&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotta hanya bisa meringis melihat lututnya yang tergores, menatap nanar ke arah botolan susu yang tumpah dan beberapa yang pecah. Bocah itu mengusap dahinya pasrah sembari menghela nafas. Tangan mememluk botolan susu yang retak dan memasukkannnya ke keranjang sepeda yang karatan. Menggoes sepedanya secepat yang ia bisa, membayangkan betapa murkanya sang ayah meliuhat beberapa botol susunya pecah dan menaparnya dengan ikan trout yang baru saja ia pancing—dengan ;atar belakang si banci yang meledekinya dengan kata-kata pedas namun nada sok manis. Dasar banci. Anak lelaki itu mengurut lengannya yang pegal, meringis menatap kakinya yang terkena pecahan beling, berjalan tergopoh ke arah rumah—berharap Kiyo (wanita tua, pengurus rumah, yang entah kenapa sangat baik padanya) yang membukakan pintu—tapi malah mendapati si wanita tua sedang berbicara dengan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Luwak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[BRAKKKK]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[TRRRK &lt;em&gt;KRING&lt;/em&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengerjapkan matanya tidak percaya dan mengabaikan dengan sempurna sepeda butunya yang tergeletak di jalan berbatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;"—seperti yang sudah bisa Anda duga sebelumnya dan seperti apa yang tertera pada surat tugas saya bahwa dengan ini saya hendak memberitahu bahwa anak Anda mendapatkan kesempatan untuk bersekolah dan menjadi bagian dari akademi sihir kami; Ryokushoku o Obita,”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nani&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ganti menatap Kiyo yang tersenyum maklum. &lt;em&gt;Kemana ayah dan si banci pergi?&lt;/em&gt; SEDANG APA SI LUWAK DISINI!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(memproses kejadian, nalar tidak sampai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;"—adiosu, Mata nee!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[PPONG!]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jya, tengu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kiyo, aku tidak mengerti—"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau akan segera pergi dari tempat ini, Hotta-kun." sebuah senyuman bijak terlengkung, "Ada sekolah baru untukmu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737525197323775915-248259929424255180?l=hottakobe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hottakobe.blogspot.com/feeds/248259929424255180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hottakobe.blogspot.com/2009/09/seleksi-asrama-1998.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737525197323775915/posts/default/248259929424255180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737525197323775915/posts/default/248259929424255180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hottakobe.blogspot.com/2009/09/seleksi-asrama-1998.html' title='First Letter (1998)'/><author><name>Hotta Kobe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02429500775440758518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2ScogJE5xeU/Sr9LfT0jbYI/AAAAAAAAAAM/r5ldSvHr-Ag/S220/hottaava3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737525197323775915.post-6394910696752768709</id><published>2009-09-27T04:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-27T18:23:11.615-07:00</updated><title type='text'>Seleksi Asrama (1998)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;[&lt;em&gt;KRIIKKK KRIKKK&lt;/em&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sshh&lt;/em&gt;. Diam, Yamada-san.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotta menekan kantung celananya, memastikan kalau jangkrik pembawa keberuntungan miliknya itu tidak membuat ulah dengan bertingkah berisik di dalam aula. Si anak lelaki hanya berdiri tenang, memperhatikan guru wanitanya yang menguarkan aroma keangkuhan yang pekat, dengan gincu yang menghiasi wajah kakunya yang nyaris retak. Wajah elok yang kaku itu seolah akan menjadi serpihan ketika seseorang menyentuhkan jari mereka ke permukaan kulitnya yang terlihat halus—Hotta tidak bisa melihat dengan jelas di balik kacamatanya yang berdebu. Anak lelaki itu lantas menarik lengan kimononya yang baru—ucapkan selamat tinggal pada baju bebas yang rata-rata kumal miliknya itu—err, tidak juga. Bagaimana dengan hari-hari libur? Hmpf, selalu begini, bukan? Baju-baju lusuh itu seolah telah menjadi bagian dari dirinya yang mencerminkan kehidupannya yang didominasi oleh kemuraman dan kesialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu mengusap berbagai macam plester yang merekat di wajahnya—hasil karya kesialannya di Jumonji, Fujisaki, dan Stasiun Akita—beberapa luka gores kecil terasa menyengat dan menyebabkan rasa perih yang membuat Hotta meringis pelan ketika mengingatnya. Anak lelaki itu setengah mengumpat kakaknya yang kewanitaan—Tamaki Si Banci—yang menyebabkan nasib buruknya yang semakin bertambah buruk dengan tambahan ocehan dan tingkah yang membuatnya gerah itu. Helaan nafas terdengar samar, serentak dengan gerakan tangan Hotta yang kini mengusap lututnya yang juga berplester. Siap-siap untuk &lt;strong&gt;penjaga UKS&lt;/strong&gt; atau semacamnya—Hotta akan sering mengunjungi tempat itu kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama apabila Yamada-san si jangkrik pembawa keberuntungan tidak ada di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[&lt;em&gt;KRIIIK KRIIK&lt;/em&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, Yamada-san, mulai pintar membaca situasi rupanya kau, &lt;em&gt;hm&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kacamata berdebunya kembali menghadap ke arah Wakil Kepala Sekolah berwajah elok itu, mengerjap takjub ketika melihat kibasan si kipas kertas yang dipegang oleh si Wakil berubah menjadi ribuan laron yang kini mengelilingi mereka. Anak lelaki itu berusaha tenang, sekalipun kedua matanya acap kali mengerjap untuk mencerna informasi di luar nalarnya itu. Tidak pernah sebelumnya ia melihat sihir semacam ini. Oke, silahkan katakan ia norak. Tapi apa yang bisa kau harapkan dari seseorang yang berasal dari keluarga penjual susu yang memiliki ayah gemuk tukang mancing dan kakak bertubuh pria namun berhati wanita, hm? &lt;em&gt;Hampir tidak ada&lt;/em&gt;. Terutama di dunia sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[KATS &lt;em&gt;SREEEK&lt;/em&gt;]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu besar di dekat para murid terbuka lebar bersamaan dengan hilangnya laron-laron mungil yang mungkin dapat dijadikan jodoh Yamada-san itu. Kedua mata si anak lelaki kembali mengerjap lambat di balik kacamatanya yang melorot, membenahi letak kacamatanya tersebut dan memperhatikan murid lain yang mulai berbisik ke anak-anak lain di dekat mereka. Hotta hanya bisa tersenyum simpul, menahan rasa perih yang menyengat di wajah dan lututnya yang terasa nyaris lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(160, 197, 68);"&gt;"Kobe, Hotta."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala yang fokusnya tertuju pada arah lain itu terangkat. Senyuman getir yang meringisi luka-luka kecil di tubuhnya lenyap. Anak lelaki itu tidak memperlihatkan raut wajah yang aneh. Benaknya terlalu bercampur aduk, tegang, penasaran, rasa takut akan nasib sial apalagi yang akan menimpanya—semuanya bersatu dan tergambar dari sebuah senyuman timpang yang terukir di wajahnya. Manik hitam milik anak lelaki itu berkilat di balik kacamata yang ia kenakan. Kakinya melangkah perlahan menuju ke depan, mendekati bola kristal berwarna yang kini sudah di dekatnya. Berharap sesuatu yang konyol seperti kesialan yang sering ia alami akan membuat bola itu pecah. Hotta menelan liur yang terkumpul dalam rongga mulutnya, menunggu keputusan si bola kristal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Begitukah sistemnya, hm?&lt;/em&gt; Menunggu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737525197323775915-6394910696752768709?l=hottakobe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hottakobe.blogspot.com/feeds/6394910696752768709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hottakobe.blogspot.com/2009/09/first-letter-1998.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737525197323775915/posts/default/6394910696752768709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737525197323775915/posts/default/6394910696752768709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hottakobe.blogspot.com/2009/09/first-letter-1998.html' title='Seleksi Asrama (1998)'/><author><name>Hotta Kobe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02429500775440758518</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_2ScogJE5xeU/Sr9LfT0jbYI/AAAAAAAAAAM/r5ldSvHr-Ag/S220/hottaava3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
